Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

Sumber gambar: https://novabio16.files.wordpress.com/2009/11/earlrg.jpg
“Dan
Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’ [17]:82)
Kajian ayat di atas dipilih setelah terinspirasi Prof. Dr. Amin Syukur, MA, penulis buku Sufi Healing yang
bertemu dalam satu meja ujian promosi doktor sebulan yang lalu. Buku
yang dia tulis itu menceritakan peristiwa ajaib 10 tahun silam ketika
tim dokter yang mengoperasinya memperkirakan usianya tinggal 15 bulan
lagi. Ia terkena kanker nasopharynk, bicaranya gagap, dan anggota badan
bagian kanannya lumpuh. Sejak itu, ia tiada henti membaca Al Qur’an dan
berdzikir. Beberapa bulan kemudian, ia sembuh bahkan lebih sehat
daripada sebelumnya, dan sampai sekarang masih aktif memberi kuliah di
beberapa perguruan tinggi.
Guru Besar di UIN Walisongo itu berobat ke dokter mengikuti perintah
Nabi SAW yang tersebut pada hadis berikut. Usamah bin Syarik r.a
bercerita, “Saya mendatangi nabi SAW dan para sahabat di sekitarnya
menunduk seolah-olah ada burung di atas kepalanya. Saya mengucapkan
salam lalu duduk. Tiba-tiba datanglah orang Arab pedesaan dan bertanya,
“Haruskah kami berobat?” Nabi menjawab, “ya.” Lalu ia bersabda,“Berobatlah
kalian sebab Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menyertakan obat
untuknya, kecuali penyakit yang satu ini yaitu penuaan” (HR.
Ahmad). Dalam hadits yang lain, Nabi SAW juga menegaskan penyakit hanya
bisa diketahui oleh orang yang ahli sesuai dengan bidangnya.
Peristiwa Amin Syukur adalah bukti kebenaran firman Allah yang
dikutip pada awal tulisan ini bahwa Al Qur’an berfungsi sebagai obat
dan rahmat untuk semua orang mukmin. Bukan ayat-ayat yang direndam dalam
air dan diminum, tapi yang dibaca dengan lagu yang merdu sampai
menimbulkan rasa gembira dan optimisme kesembuhan.
Kate dan Richard Mucci melaporkan hasil penelitian dalam bukunya, The Healing Sound of Music(2002).
Eksperimen dilakukan dengan meminta sejumlah penderita kanker ganas
untuk menikmati musik harpa yang dimainkannya. Para dokter terkejut,
ternyata beberapa bulan berikutnya mereka sembuh. Menurutnya, akan lebih
dahsyat lagi pengaruh musik jika yang memainkannya adalah mereka
sendiri. Musik bisa merangsang aktivasi otak dan menimbulkan rasa
senang, dan rasa senang inilah yang mempercepat penyembuhan. Menurut
Deepak Chopra, “Pikiran bahagia membentuk molekul bahagia, dan pikiran
tegang membuka pintu masuknya banyak penyakit termasuk kanker.” Amin
Syukur membuktikan dzikir dengan nyaring dapat menenangkan jiwa
sekaligus merangsang aktivasi otak melalui indera telinga, apalagi jika
disertai dengan pengaturan pernafasan dan visualisasi. Inilah yang
disebut sound healing atau al ‘ilaj bis shawt atau penyembuhan melalui suara.
Peneliti di Mesir juga melakukan lima tahap ekperimen terhadap 210
non-muslim sebagai sukarelawan. Dari riset itu ia menyimpulkan bacaan Al
Qur’an dapat menurunkan ketegangan pikiran sampai 65 persen sekaligus
menguatkan kekebalan tubuh sehingga terhindar dari beberapa penyakit
yang lama ataupun baru.
Alfred Tomatis, musisi dan dokter asal Prancis mengatakan, pendengaran
adalah indera paling penting, sebab ia panglima yang mengatur semua
sistem syaraf. Telinga bagian dalam berhubungan dengan jantung,
paru-paru, hati dan usus. Frekwensi suara dapat memengaruhi semua organ
tubuh. Fabien (1974) menambahkan, suara dapat memengaruhi sel-sel
termasuk sel kanker. Suara paling dahsyat pengaruhnya adalah suara
dirinya sendiri. Suara memiliki pengaruh terhadap sel-sel dalam tubuh
termasuk sel-sel darah, bahkan bisa meledakkan sel kanker dan dalam
waktu yang sama mengaktifkan sel-sel dengan baik.
Menurut teori PNI (Psiko-Neuro-Endokrin-Imunologi), hati yang tenang
akan menyebabkan kelenjar mengeluarkan hormon indokrin yang menguatkan
imunitas dan kesehatan fisik. Dengan demikian, sel-sel radikal (kanker)
akan terhenti dan hilang. Sebaliknya, jika hati seseorang gelisah dan
marah maka cairan tubuhnya akan berubah menjadi racun dan imunitas
tubuhnya menurun sehingga mudah terserang penyakit.
Abd al Daim Al Kahiil dalam bukunya, Al Qur’an, The Healing Book mengatakan,
semua suara termasuk bacaan Al Qur’an merupakan gelombang yang menyebar
ke udara. Getaran frekwensi di udara tersebut lalu menggetarkan gendang
telinga, lalu ke saraf pendengaran dan kemudian berubah menjadi
gelombang electromagnetic yang diterima otak. Otak selanjutnya melakukan analisis dan memberi perintah ke seluruh tubuh.
Adz Dzahaby dalam At Thibbun Nabawy mengatakan,
“Menyanyi adalah denyut kesenangan yang menguatkan emosi, memperlambat
penuaan dan mengusir penyakit.” Bacaan Al Qur’an yang merdu oleh imam
shalat dapat menggerakkan gelombang electromagnetic yang
menggetarkan kulit dan menenangkan hati makmum dan semua pendengarnya
(QS. Al Zumar [39]: 23). Suara kalam ilahi itu juga dapat menggetarkan
gunung dan bumi (QS. Al Ra’d [13]:31).
Jika musik tanpa energi ilahiah bisa memberikan penyembuhan, maka
ayat-ayat Al Qur’an pasti lebih dahsyat pengaruhnya, sebab setiap huruf
yang masuk ke dalam telinga mengandung minimal sepuluh energi positif.
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab suci
Allah, maka dia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat
sepuluh. Aku tidak menghitung alif lam mim satu huruf, melainkanalif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi).
Mulai sekarang, jangan lewatkan satu haripun rumah Anda tanpa suara Al
Qur’an. Keraskan bacaan Anda dengan irama dan alunan yang membuat hati
Anda berbunga-bunga, penuh suka cita. Semoga Anda juga secara bertahap
memahami kandungan maknanya. Dari sound healing therapy inilah kita bisa mengerti mengapa Nabi SAW memerintahkan Anda melagukan Al Qur’an, “Bukanlah pengikutku orang yang tidak melagukan Al Qur’an” (
HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a). Selamat menyambut kesehatan,
ketenangan hati dan limpahan rahmat Allah melalui lagu-lagu Al Qur’an.
Referensi: Prof. Dr. HM. Amin Syukur, MA, Sufi Healing, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2012 p. 87; Dr. H. Achmad Zuhdi DH, M.Fil, Terapi Qur’ani, Tinjauan Al Qur’an Al Hadits dan Sains Modern, Penerbit Imtiyaz, Surabaya, 2015 p. 285; Dr. H. Harjani Hefni, MA, The Seven Islamic Daily Habits, Pustaka Ikadi, Jakarta, Cet VI, 2013 p. 197.
Sumber: http://www.terapishalatbahagia.net/sound-healing-sembuhkan-dengan-al-quran/
artikel ini dikutip dari: http://www.uinsby.ac.id/kolom/id/157/sound-healing-sembuhkan-dengan-al-qur-an

Tidak ada komentar:
Posting Komentar